Catatan Ibnu Sina: Pintu Taubat Itu Bernama Good Governance

ISTILAH good governance atau Tata Pemerintahan yang Baik akhir-akhir ini menjadi sangat popular dan sangat akrab dengan telinga kita. Saya yakin banyak masyarakat yang sudah tahu apa itu good governance, tetapi untuk bisa menggambarkan wujud nyata dari istilah tersebut saya tidak terlalu yakin. Apakah semua orang akan dapat menjelaskan dengan benar?
___________________
IBNU SINA, Wali Kota Banjarmasin
___________________
Bahkan saya belum haqqul yaqin bahwa pejabat yang sering mengungkapkan istilah good governance juga akan dapat menjelaskan gambaran nyata dan sesungguhnya dari istilah tersebut.
Saya mengutip rumusan hasil Seminar Nasional Tata Pemerintahan Kota yang Baik yang dilaksanakan di Jakarta pada Mei 2001 lalu, cukup lama memang kegiatan ini, namun masih relevan. 

Good Governance adalah suatu tata pemerintahan yang mendasarkan diri pada prinsip-prinsip (yang kemudian dikenal dengan Sepuluh Prinsip Tata Pemerintahan yang Baik), antara lain : partisipasi, penegakan hukum, mewujudkan adanya penegakan hukum dan kepastian hukum yang adil transparansi, responsif/tanggap, kesetaraan, visi strategis, efektifitas dan efisiensi, profesionalisme, akuntabilitas dan pengawasan.

Sejujurnya bagi masyarakat, mereka tidak akan memperdebatkan definisi tersebut, yang penting adalah pemerintah dapat memberikan pelayanan public secara cepat dan mudah. Kalau mau mengurus izin apa saja ada standar pelayanan minimal lengkap dengan prosedur yang harus dilalui dan kalau pun ada biaya yang harus dikeluarkan harus jelas tarif-tarifnya. 

Selebihnya penyelenggara pemerintahan harus mau transparan soal kebijakan dan alokasi anggaran serta pelaksanaan kegiatan pembangunan, itulah yang kami lakukan di Kota Banjarmasin.

Jika kita tarik ke Provinsi Kalsel, dengan penuh kebanggaan bertahun-tahun lalu ditetapkan sebagai salah satu pilot project pelaksanaan Good Governance di Indonesia. Gubernur, bupati dan wali kota beserta DPRD se-Kalimantan Selatan menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) pelaksanaan Good Governance di hadapan Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Setidaknya saya masih ingat betul, saat saya masih menjadi wakil rakyat di DPRD Kalsel.

Sebuah proklamasi yang sangat berani di saat proses reformasi sedang bergerak entah kemana, apalagi reformasi birokrasi yang dulu pernah digaungkan menemui jalan buntu di tikungan otonomi daerah yang setengah hati itu. 

Mengutip ungkapan Ketua BPK RI tahun 2006 lalu mengatakan, “Syukurlah kalian sudah bertobat dengan Good Governance ini”. Artinya MoU tersebut adalah pengakuan terhadap “dosa-dosa” pemerintahan di masa lalu dan mengandung sebuah tekad kuat untuk bertobat, serta memperbaiki kinerja pemerintahan untuk lebih transparan dan akuntabel dalam mengelola pemerintahan. 

Selanjutnya memperbaiki pelayanan publik melalui komitmen standar pelayanan minimal kepada masyarakat, mengurangi terjadinya penyimpangan penggunaan anggaran, dan mengurangi korupsi disetiap satuan kerja perangkat daerah.
Semua harus mengubah mindset bahwa pejabat harus melayani bukan minta dilayani. Begitu pula dengan wakil rakyat, harus tetap memperjuangkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya.

Ada tiga pilar suksesnya good governance menurut FA Alijoyo dalam Trilogi of Governance. Tiga elemen governance yang terkait dan tidak terpisahkan dalam satu sistem pemerintahan adalah elemen penyelenggara pemerintahan, elemen pelaku bisnis swasta, dan elemen masyarakat. 

Ketiga elemen tersebut dapat kita sebut sebagai suatu trilogi. Masing-masing memiliki karakter tersendiri tetapi ketiganya tidak akan mampu berdiri dan berkembang sendiri-sendiri. Mereka mengarah pada satu tujuan yaitu kehidupan yang lebih baik bagi setiap warga masyarakat.

Kalau boleh kita katakan bahwa tiga pilar tersebut adalah parameter global yang tentunya harus diturunkan menjadi parameter-parameter keberhasilan dan kegagalan sebuah program yang lebih detail. Nah, sudahkah tiga pilar ini bersinergi untuk menghasilkan ledakan kebaikan yang menggetarkan nurani masyarakat. Mari kita upayakan bersama. (ibnusina)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar